ALIRAN, TEORI DAN PILAR PENDIDIKAN
BAB
I
A.
Pendahuluan
Dunia pendidikan telah mengalami perkembangan yang pesat dari masa ke masa.
Berbagai penemuan dalam hal pendidikan juga banyak ditemukan oleh para pakar
pendidikan. Kemajuan pendidikan yang sekarang tampak jelas tidak bisa lepas
pula dari adanya suatu aliran ataupun berbagai teori yang mendukungnya yang
masing-masing mempunyai terobosan untuk mengembangkan dunia pendidikan sendiri.
Disamping itu pendidikan juga harus mempunyai pilar atau prinsip yang bisa
dijadikan suatu pokok atau pedoman dalam pelaksanaannya di berbagai belahan
dunia.
Untuk lebih memahami dan mengetahui secara mendetail, diperlukan adanya
pembahasan khusus mengenai hal-hal di atas.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana penjelasan rinci tentang teori, aliran, dan
pilar pendidikan?
2. Ada berapa aliran, teori dan pilar pendidikan?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Aliran Pendidikan
Masyarakat
mempunyai kecenderungan untuk berubah dan berkembang. Sebagai akibat dari
perubahan itu ilmu pengetahuan serta ketrampilan yang pada masa lalu telah
beraneka ragam mengalami perubahan dan semakin kaya pula, hingga seolah-olah
tiada batas waktu yang diperlukan untuk mempelajarinya.[1]
Hingga akhirnya banyak muncul aliran-aliran dalam pendidikan yang berpengaruh
dalam pemikiran pendidikan dewasa ini. Antara lain :
1.
Nativisme.
Istilah nativisme berasal dari kata native yang berarti terlahir.
Yaitu terlahir dengan bekal tertentu yang berupa aneka potensi.[2] Nativisme
(aliran pembawaan) ini dipelopori oleh Schopenhauer. Dia merupakan seorang
filosof jerman yang hidup pada tahun 1778-1860. Aliran ini berkeyakinan bahwa
anak yang baru lahir membawa bakat, kesanggupan dan sifat-sifat tertentu.[3]
Sehingga anak sudah membawa bakat atau potensinya sendiri-sendiri. Pengaruh
dari faktor eksternal dianggap tidak akan mempengaruhi. Menurut teori Nativisme
ini, anak yang sudah membawa potensi jahat nantinya akan menjadi manusia jahat,
sebaliknya anak yang membawa potensi baik akan menjadi baik pula. Oleh karena
itu yang akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan manusia adalah faktor
dari dalam yaitu potensi baik buruk tersebut, sedangkan faktor luar berupa
pengalaman dari lingkungan tidak akan mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangannya.[4]
Misalnya:
seorang pemuda sekolah menengah mempunyai bakat musik. Pikirannya, perasaannya
dan kemauannya serta seluruh pribadinya tertuju kepada musik. Ia sanggup dengan
penuh nikmat dan gembira mendengarkan musik berjam-jam lamanya. Ia selalu
bermain biola atau seruling dengan tidak bosan-bosannya. Pekerjaan-pekerjaan
yang lain, sekolahnya, tidak menarik hatinya bahkan tidak dihiraukannya. Orang
tuanya selalu menasehati dan kadang-kadang memarahinya. Ia dipaksa belajar dan
menghafal di rumah. Orang tuanya hanya mau menjadikannya insinyur, sarjana
teknik, dan selalu menegaskan bahwa musik itu tidak akan bisa mencukupi nafkah
hidupnya kelak. Hanya karena kerasnya paksaan orang tuanya dan bantuan dari gurunya
ia terus menjalani sekolahnya, tetapi baru saja ia lepas dari kungkungan orang
tuanya, lepas dari bimbingan gurunya, ia kembali kepada musik dan mencurahkan
hatinya, perasaannya, segala waktu dan tenaganya untuk musiknya tersebut. Tidak
lah suatu bukti, bahwa pendidikan dan lingkungan itu sekali-kali tidak
berkuasa? Kata aliran nativisme.[5]
pandangan ini, keberhasilan pendidikan ditentukan olah anak didik sendiri.[6]
2.
Empirisme.
Aliran
empirisme bertolak dari tradisi Lockean yang lebih mementingkan stimulasi
eksternal dalam perkembangan manusia termasuk dalam proses pendidikan.[7]
Konsep ini menyatakan bahwa dalam pendidikan, pengaruh dari luar lebih besar
bila dibandingkan dengan yang berasal dari dalam peserta didik, seperti bakat
atau potensi-potensi yang lain. Sejalan dengan konsep ini berkembang konsep
tabula rasa, yang menyatakan bahwa jiwa manusia itu dapat diibaratkan sebagai
kertas putih bersih yang siap untuk ”ditulisi” oleh orang lain.[8]
Aliran ini oleh pemikir-pemikir berikutnya banyak dikritik dan dikoreksi,
karena teori ini dianggap berat sebelah yang hanya mementingkan faktor
pengalaman semata tanpa memperhatikan faktor bakat individu.[9]
3.
Naturalisme.
Pandangan yang ada
persamaannya dengan nativisme adalah naturalisme yang dipelopori oleh J.J. Rousseau
(1712-1778) (Gambar7.3). Naturalisme mempunyai pandanganbahwa setiap anak yang
lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi
rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga naturalisme sering disebut
negativisme.[10]
Dalam bukunya yang berjudul “Emile, J. J. Rousseau” menceritakan bagaimana
pendidikan harus dilakukan oleh seorang pendidik kepada peserta didik secara
individual dengan cara menjauhkan peserta didik dari segala keburukan
masyarakat yag serba dibuat-buat sehingga segenap potensi kebaikan pada diri
anak sebagai peserta didik bisa berkembang secara bebas,
alamiah, dan spontan.[11]
- Konvergensi.
Teori ini dipelopori oleh William
Stermn ini beranggapan bahwa pertumbuhan dan perkembangan individu disamping
dipengaruhi oleh faktor-faktor internal yaitu potensi yang dibawa sejak lahir
juga dipengaruhi oleh pengalaman.[12]
Pelopor aliran ini mengatakan :
“Kemungkinan-kemungkinan yang
dibawa lahir itu adalah petunjuk-petunjuk nasib depan dengan ruangan permainan.
Dalam ruangan permainan itulah letaknya pendidikan dalam arti seluas-luasnya.
Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong, tetapi bukanlah ia yang menyebabkan
pertumbuhan itu, karena ini datangnya dari dalam yang mengandung dasar
keaktifan dan tenaga pendorong”[13]
teori ini disebut sebagai teori konvergensi dikarenakan menggabungkan
alairan-aliran sebelumnya menjadi memusat ke satu titik (konvergen). Namun
demikian teori konvergensi dianggap para ahli masih menyisakan permasalahan
karena teori ini dianggap tidak bisa menjelaskan lebih lanjut dinamika
perkembang pasca pertemuan dua factor bawaan dan lingkungan.[14]
- Progresivisme.
[1] Prof. imam Barnadib, MA,
Ph. D, Prof. Dr. Sutari Imam barnadib, Beberapa Aspek Substansial Ilmu
Pendidikan,(Yogyakarta: ANDI, 1996),58.
[2] Dwi Siswoyo dkk, Ilmu
Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 93.
[3] Drs. H. Abu Ahmadi, Dra.
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001), 291.
[4] Dwi Siswoyo dkk, Ilmu
Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 93.
[5] Drs. H. Abu Ahmadi, Dra.
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001), 291-292.
[8] Prof. imam Barnadib, MA,
Ph. D, Prof. Dr. Sutari Imam barnadib, Beberapa Aspek Substansial Ilmu
Pendidikan,(Yogyakarta: ANDI, 1996),58-59.
[9] Dwi
Siswoyo dkk, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 94.
[11] Dwi Siswoyo dkk, Ilmu
Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 95.
[12] Ibid, 95.
[13] Drs. H. Abu Ahmadi, Dra.
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001), 294.
[14] Dwi Siswoyo dkk, Ilmu
Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 96.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar