temukan jawabannya disini

Rabu, 01 Mei 2013


ALIRAN, TEORI DAN PILAR PENDIDIKAN

BAB I
A.     Pendahuluan
Dunia pendidikan telah mengalami perkembangan yang pesat dari masa ke masa. Berbagai penemuan dalam hal pendidikan juga banyak ditemukan oleh para pakar pendidikan. Kemajuan pendidikan yang sekarang tampak jelas tidak bisa lepas pula dari adanya suatu aliran ataupun berbagai teori yang mendukungnya yang masing-masing mempunyai terobosan untuk mengembangkan dunia pendidikan sendiri. Disamping itu pendidikan juga harus mempunyai pilar atau prinsip yang bisa dijadikan suatu pokok atau pedoman dalam pelaksanaannya di berbagai belahan dunia.
Untuk lebih memahami dan mengetahui secara mendetail, diperlukan adanya pembahasan khusus mengenai hal-hal di atas.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana penjelasan rinci tentang teori, aliran, dan pilar pendidikan?
2.      Ada berapa aliran, teori dan pilar pendidikan?

















BAB II
PEMBAHASAN
A.     Aliran Pendidikan
Masyarakat mempunyai kecenderungan untuk berubah dan berkembang. Sebagai akibat dari perubahan itu ilmu pengetahuan serta ketrampilan yang pada masa lalu telah beraneka ragam mengalami perubahan dan semakin kaya pula, hingga seolah-olah tiada batas waktu yang diperlukan untuk mempelajarinya.[1] Hingga akhirnya banyak muncul aliran-aliran dalam pendidikan yang berpengaruh dalam pemikiran pendidikan dewasa ini. Antara lain :
1.      Nativisme.
Istilah nativisme berasal dari kata native yang berarti terlahir. Yaitu terlahir dengan bekal tertentu yang berupa aneka potensi.[2] Nativisme (aliran pembawaan) ini dipelopori oleh Schopenhauer. Dia merupakan seorang filosof jerman yang hidup pada tahun 1778-1860. Aliran ini berkeyakinan bahwa anak yang baru lahir membawa bakat, kesanggupan dan sifat-sifat tertentu.[3] Sehingga anak sudah membawa bakat atau potensinya sendiri-sendiri. Pengaruh dari faktor eksternal dianggap tidak akan mempengaruhi. Menurut teori Nativisme ini, anak yang sudah membawa potensi jahat nantinya akan menjadi manusia jahat, sebaliknya anak yang membawa potensi baik akan menjadi baik pula. Oleh karena itu yang akan menentukan pertumbuhan dan perkembangan manusia adalah faktor dari dalam yaitu potensi baik buruk tersebut, sedangkan faktor luar berupa pengalaman dari lingkungan tidak akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya.[4]
Misalnya: seorang pemuda sekolah menengah mempunyai bakat musik. Pikirannya, perasaannya dan kemauannya serta seluruh pribadinya tertuju kepada musik. Ia sanggup dengan penuh nikmat dan gembira mendengarkan musik berjam-jam lamanya. Ia selalu bermain biola atau seruling dengan tidak bosan-bosannya. Pekerjaan-pekerjaan yang lain, sekolahnya, tidak menarik hatinya bahkan tidak dihiraukannya. Orang tuanya selalu menasehati dan kadang-kadang memarahinya. Ia dipaksa belajar dan menghafal di rumah. Orang tuanya hanya mau menjadikannya insinyur, sarjana teknik, dan selalu menegaskan bahwa musik itu tidak akan bisa mencukupi nafkah hidupnya kelak. Hanya karena kerasnya paksaan orang tuanya dan bantuan dari gurunya ia terus menjalani sekolahnya, tetapi baru saja ia lepas dari kungkungan orang tuanya, lepas dari bimbingan gurunya, ia kembali kepada musik dan mencurahkan hatinya, perasaannya, segala waktu dan tenaganya untuk musiknya tersebut. Tidak lah suatu bukti, bahwa pendidikan dan lingkungan itu sekali-kali tidak berkuasa? Kata aliran nativisme.[5]
­­­ pandangan ini, keberhasilan pendidikan ditentukan olah anak didik sendiri.[6]
2.      Empirisme.
Aliran empirisme bertolak dari tradisi Lockean yang lebih mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia termasuk dalam proses pendidikan.[7] Konsep ini menyatakan bahwa dalam pendidikan, pengaruh dari luar lebih besar bila dibandingkan dengan yang berasal dari dalam peserta didik, seperti bakat atau potensi-potensi yang lain. Sejalan dengan konsep ini berkembang konsep tabula rasa, yang menyatakan bahwa jiwa manusia itu dapat diibaratkan sebagai kertas putih bersih yang siap untuk ”ditulisi” oleh orang lain.[8] Aliran ini oleh pemikir-pemikir berikutnya banyak dikritik dan dikoreksi, karena teori ini dianggap berat sebelah yang hanya mementingkan faktor pengalaman semata tanpa memperhatikan faktor bakat individu.[9]
3.      Naturalisme.
Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah naturalisme yang dipelopori oleh J.J. Rousseau (1712-1778) (Gambar7.3). Naturalisme mempunyai pandanganbahwa setiap anak yang lahir di dunia mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan tersebut akan menjadi rusak karena pengaruh lingkungan, sehingga naturalisme sering disebut negativisme.[10] Dalam bukunya yang berjudul “Emile, J. J. Rousseau” menceritakan bagaimana pendidikan harus dilakukan oleh seorang pendidik kepada peserta didik secara individual dengan cara menjauhkan peserta didik dari segala keburukan masyarakat yag serba dibuat-buat sehingga segenap potensi kebaikan pada diri anak sebagai peserta didik bisa berkembang secara bebas, alamiah, dan spontan.[11]
  1. Konvergensi.
Teori ini dipelopori oleh William Stermn ini beranggapan bahwa pertumbuhan dan perkembangan individu disamping dipengaruhi oleh faktor-faktor internal yaitu potensi yang dibawa sejak lahir juga dipengaruhi oleh pengalaman.[12] Pelopor aliran ini mengatakan :
“Kemungkinan-kemungkinan yang dibawa lahir itu adalah petunjuk-petunjuk nasib depan dengan ruangan permainan. Dalam ruangan permainan itulah letaknya pendidikan dalam arti seluas-luasnya. Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong, tetapi bukanlah ia yang menyebabkan pertumbuhan itu, karena ini datangnya dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong”[13] teori ini disebut sebagai teori konvergensi dikarenakan menggabungkan alairan-aliran sebelumnya menjadi memusat ke satu titik (konvergen). Namun demikian teori konvergensi dianggap para ahli masih menyisakan permasalahan karena teori ini dianggap tidak bisa menjelaskan lebih lanjut dinamika perkembang pasca pertemuan dua factor bawaan dan lingkungan.[14]
  1. Progresivisme.



[1]      Prof. imam Barnadib, MA, Ph. D, Prof. Dr. Sutari Imam barnadib, Beberapa Aspek Substansial Ilmu Pendidikan,(Yogyakarta: ANDI, 1996),58.
[2]      Dwi Siswoyo dkk, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 93.
[3]      Drs. H. Abu Ahmadi, Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001), 291.
[4]      Dwi Siswoyo dkk, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 93.
[5]      Drs. H. Abu Ahmadi, Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001), 291-292.

[6]
[7]
[8]      Prof. imam Barnadib, MA, Ph. D, Prof. Dr. Sutari Imam barnadib, Beberapa Aspek Substansial Ilmu Pendidikan,(Yogyakarta: ANDI, 1996),58-59.
[9]      Dwi Siswoyo dkk, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 94.
[11]    Dwi Siswoyo dkk, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 95.
[12]    Ibid, 95.
[13]    Drs. H. Abu Ahmadi, Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2001), 294.
[14]      Dwi Siswoyo dkk, Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: UNY Press, 2008), 96.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar