temukan jawabannya disini

Jumat, 29 November 2013

kebersamaan



Manajemen pemasaran
A.    Pemasaran dan manajemen pemasaran
1.      Pendapat Philip kotler
Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
2.      Menurut Philip Kotler dan Amstrong
Pemasaran ialah sebagai suatu proses sosial dan manjerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
3.      Pemasaran ialah sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan distribusi yang dapat memuaskan keinginan dan mendapat pasar sasaran tujuan perusahaan.
4.      Menurut W. Stanton
Bahwa pemasaran ialah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan maupun keinginan pembeli potensial.

B.     Konsep pemasaran.
Konsep inti pemasaran meliputi kebutuhan, keinginan, dan permintaan, produksi, utilitas, nilai, dan kepuasan.
Kebutuhan adalah suatu keadaan yang dirasakannya, ketiadaan kepuasan dasar tertentu.
Keinginan adalah kehendak yang kuat akan pemuasan yang spesifik terhadap kebutuhan-kebutuhan yang lebih mendasar. Sedangkan permintaan adalah keinginan akan produk yang lebih spesifik yang didukung dengan kemampuan dan kesediaan untuk membelinya.
C.     Manajemen pemasaran
Berasal dari 2 kata yaitu: management dan pemasaran. Menurut Kotler dan Amstrong pemasaran adalah analisis pembahasan, perencanaan, implementasi, dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan. Sedangkan manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan dan pengawasan. Jadi dapat diartikan bahwa manajemen pemasaran adalah sebagai analisa, perencanaan, penerapan, dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran adalah sebagai kegiatan yang direncanakan dan diorganisasikan yang meliputi pendistribusian barang, penetapan harga, dan dilakukan pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan yang telah dibuat yang tujuannya untuk mendapatkan tempat di pasar agar tujuan utama dari pemasaran dapat dicapai.

Bab II: macam-macam konsep pemasaran
1.      Konsep Pemasaran.
Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunci untuk mencapai tujuan organisasi dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan para pesaing. Konsep pemasaran yang telah diungkapkan dengan berbagai cara adalah:
a.       Temukan keinginan berbagai pasar dan penuhilah pasar itu.
b.      Buatlah apa yang dapat dijual dan jangan berusaha menjual apa yang dapat dibuat saja.   

AL-QUR’AN DAN BUKTI KEOTENTIKANNYA
Standar Kompetensi:
1.      Memahami pengertian Al-Qur’an dan bukti keotentikannya.
Kompetensi Dasar:
1.1  menjelaskan pengertian Al-Qur’an menurut para ahli
1.2  membuktikan keotentikan Al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatannya, dan sejarahnya.
1.3  Menunjukkan perilaku orang yang meyakini kebenaran Al-Qur’an






BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Al-Qur’an adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir yakni Nabi Muhammad SAW. Setiap muslim wajib beriman kepada kitab suci al-Qur’an dan juga kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya, yaitu: Zabur, Taurat dan Injil. Al-Qur’an berfungsi untuk membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya.
Setiap muslim seharusnya mengenal kitab suci al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya (way of life). Untuk mengenal al-Qur’an, hendaknya dimulai dengan memahami apa pengertian al-Qur’an serta segala hal yang berkaitan dengannya. Dan yang paling penting lagi adalah memahami isinya, untuk selanjutnya dapat melaksanakan ajaran-ajaranya.
Bagi Nabi Muhammad SAW., al-Qur’an berfungsi sebagai mu’jizat yang terbesar yang berlaku kekal abadi. Sebagai kitab mu’jizat, al-Qur’an tidak mungkin dapat ditiru dari aspek manapun dan oleh siapapun, karena Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu Allah SWT.
B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Al-Qur’an menurut para ahli?
2.      Apa bukti keotentikan Al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatannya, dan sejarahnya?







BAB II
A.      Pengertian Al-Qur’an
Secara bahasa Al-Qur’an merupakan masdar dari kata qara’a yaqra’u qur’aanan, yang artinya bacaan atau yang dibaca. Karena di dunia ini tidak ada bacaan, buku, atau kitab seperti Al-Qur’an yang senantiasa dibaca, dimusabaqohkan dan dikaji oleh berjuta-juta manusia, hal tersebut juga diperkuat oleh Prof. Chotibul Umam bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang paling banyak dibaca orang di seluruh dunia.[1]
Pengertian di atas dapat dibaca dalam surat Al-Qiyamah ayat 17-18 dan Q.S Fushilat ayat 3
Sedangkan pengertian Al-Qur’an menurut istilah terdapat banyak definisi yang dikemukakan para ahli, diantaranya:
a.       Syaikh Muhammad Khudlori Beik dalam bukunya Tarikh At Tasyri’ Al Islami
اَلْقُرْءَانُ هُوَ اللَّفْظُ الْعَرَبِيُّ الْمُنَزَّلُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلتَّدَبُّرِ وَالتَّذَكُّرِ الْمَنْقُوْلُ مُتَوَاتِرًا وَهُوَ مَا دَفَّـتَيْنِ الْمَبْدُوْءُ بِسُوْرَةِ الْفَـاتِحَةِ وَالْمَخْتُوْمُ بِسُوْرَةِ النَّـاسِ                                                   

Al qur’an adalah firman Allah SWT yang berbahasa arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk dipahami isinya dan diingat selalu yang disampaikan dengan jalan mutawatir, ditulis dalam mushaf yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri surat An Nas.
b.      Rumusan lain dikemukakan oleh Syekh Muhammad Abduh dalam kitabnya Risalaatut Tauhid:
Al Kitab atau Al-Qur’an ialah bacaan yang telah ditulis dalam mushaf-mushaf yang terjaga dalam hafaan-hafalan umat Islam.
c.       Sedangkan menurut rumusan Dr. Shabhi As-Shalih
Al-Qur’an adalah kitab Allah sebagai mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang termaktub dalam mushaf-mushaf yang disampaikan dengan jalan mutawatir yang bernilai ibadah dalam membacanya.[2]
Dari ketiga pendapat di atas, dapat disimpulkan beberapa unsur dalam pengertian Al-Qur’an sebagai berikut:
1.      Al-Qur’an adalah firman Allah SWT.
2.      Al-Qur’an terdiri dari lafadz berbahasa Arab.
3.      Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
4.      Al-Qur’an merupakan kitab Allah SWT yang mengandung mukjizat bagi Nabi Muhammad SAW yang diturunkan dengan perantara malaikat Jibril.
5.      Al-Qur’an disampaikan dengan cara mutawatir.
6.      Al-Qur’an merupakan bacaan mulia dan membacanya merupakan ibadah.
7.      Al-Qur’an ditulis dalam mushaf-mushaf yang diawali dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri surat An-Nas.
8.      Al-Qur’an senantiasa terjaga kemurniannya dengan adanya sebagian orang Islam yang menjaganya dengan menghafal Al-Qur’an.
B.       Kemukjizatan Al-Qur’an
1.      Pengertian Mukjizat dan I’jazul Al-Qur’an.
Secara bahasa kata Mukjizat berbentuk isim Fa’il yang berasal dari kata:
اعجز- يعجز- اعجازا- معجز/ معجزة
Yang berarti melemahkan atau mengalahkan lawan. Mukjizat juga diartikan sebagai sesuatu yang menyalahi tradisi atau kebiasaan.
Secara istilah, Manna’ Qaththan mendefinisikan sebagai berikut:
المعجزة هي امر خارق للعادة مقرون بالتحدى سالم عن المعارضة
Mukjizat adalah sesuatu yang menyalahi kebiasaan disertai dengan tantangan dan selamat dari perlawanan.
Mukjizat hanya diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul-Nya dalam menyampaikan risalah Ilahi terutama untuk menghadapi umatnya yang menolak atau tidak mengakui kerasulan mereka. Mukjizat berfungsi sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulan mereka, bahwa mereka adalah benar-benar para nabi dan rasul Allah yang membawa risalah kebenaran dari Allah SWT. Adapun tujuan diberikannya mukjizat adalah agar para Nabi dan Rasul mampu melemahkan dan mengalahkan orang-orang kafir yang menentang dan tidak mengakui atas kebenaran kenabian dan kerasulan mereka.
Dengan demikian yang dimaksud I’jazul Qur’an adalah menetapkan kelemahan manusia baik secara individual maupun kolektif untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an. Mukjizat Al-Qur’an bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran pada manusia bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT dan sekaligus merupakan bukti kerasulan Muhammad SAW.
Dalam hal ini Imam Al-Suyuthi, sebagaimana dikutip oleh Dr. Syahrin Harahap, MA, mengungkapkan bahwa: Adanya i’jaz Al-Qur’an itu ada kaitannya dengan persepsi yang salah dari pihak orang arab terhadapnya. Sehingga Al-Qur’an memberi jawaban terhadap persepsi mereka yang keliru itu, dengan cara menawarkan agar mereka menunjukkan kekuatan argumentasi dan kebenarannya. Akan tetapi orang Arab sama sekali tidak dapat membuktikan kebenaran mereka, sementara Al-Qur’an secara meyakinkan menunjukkan kebenarannya. Disinilah letak i’jaz Al-Qur’an itu.
2.      Aspek-aspek kemukjizatan Al-Qur’an
Kemukjizatan Al-Qur’an sesungguhnya terdapat dalam dirinya sendiri. Tegasnya kemukjizatan Al-Qur’an ada dalam kandungannya, bukan di luarnya. Jadi, kitab suci ini tidak membutuhkan keterangan lain di luar dirinya untuk membuktikan bahwa ia adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW.
Secara garis besar ada dua aspek kemukjizatan Al-Qur’an, yaitu:
a.       Gaya bahasa (Uslub)
Al-Qur’an mempunyai gaya bahasa yang khas yang tidak dapat ditiru para sastrawan Arab sekalipun, karena susunan yang indah yang berlainan dengan setiap susunan dalam bahasa Arab. Mereka melihat Al-Qur’an memakai bahasa dan lafadz mereka, tetapi ia bukan puisi, prosa, atau syair dan mereka tidak mampu membuat seperti itu (meniru Al-Qur’an). Mereka tidak pernah mampu untuk menandinginya dan putus asa lalu merenungkannya, kemudian merasa kagum dan menerimanya, lalu sebagian masuk Islam. Contoh dalam sejarah diterangkan bahwa Umar bin Khattab menyatakan diri masuk Islam setelah mendengar ayat-ayat pertama surat Thaaha, dan masih banyak contoh lainnya. Inilah bukti kemukjizatan Al-Qur’an dari segi bahasanya.
Uslub Al-Qur’an sangatlah indah. Keindahan uslub Al-Qur’an benar-benar telah membuat orang-orang Arab atau luar Arab kagum dan terpesona. Di dalam Al-Qur’an terkandung nilai-nilai istimewa dimana tidak akan terdapat dalam ucapan manusia menyamai isi yang terkandung di dalamnya.
Hal lain yang dapat dicatat dari kemukjizatan Al-Qur’an dari aspek bahasa adalah ketelitian, kerapian, dan keseimbangan kata-kata yang digunakannya. Hal itu dapat dilihat pada bukti-bukti sebagai berikut:
1)      Ketelitian dalam pengungkapan kata-kata.
Suatu surat yang diawali dengan huruf-huruf tertentu, di dalamnya selalu terdapat bahwa huruf-huruf itu, dalam jumlah rata-raat, lebih banyak dan berulang jika dibandingkan dengan huruf-huruf lainnya.
2)      Keseimbangan penggunaan kata-kata
Dalam Al-Qur’an terlihat pula keseimbangan kata-kata yang digunakan secara simetris, misalnya: kata الحياة berjumlah 145 kali, sama dengan kata الموت yang berjumlah 145 kali.[3]
b.      Isi kandungannya
Dilihat dari isi kandungannya, kemukjizatan Al-Qur’an dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu:
1.        Al-Qur’an mengungkapkan berita-berita yang bersifat ghaib.
Hal-hal yang bersifat ghaib yang diungkap dalam Al-Qur’an dapat dipilah menjadi 2 yaitu:
Pertama, berita menyangkut masa lalu. Sebagai contohnya: Kisah Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Musa, dan kisah lain di masa lalu. Salah satu contoh lainnya sebagaimana diungkapkan dalam QS. Yunus ayat 92:

92. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.
Ayat tersebut menceritakan tentang Fir’aun yang diawetkan dengan cara dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang. Hal itu bersifat ghaib, karena tidak ada orang yang mengenalnya. Akan tetapi berita Al-Qur’an itu ternyata terbukti kebenarannya kemudian.
Kedua, berita tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi baik di dunia maupun di akhirat, misalnya:
$O!9# ÇÊÈ   ÏMt7Î=äñ ãPr9$# ÇËÈ   þÎû oT÷Šr& ÇÚöF{$# Nèdur -ÆÏiB Ï÷èt/ óOÎgÎ6n=yñ šcqç7Î=øóuy ÇÌÈ  
Alif laam Miim. telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang
Ayat tersebut menceritakan tentang kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia. Padahal ketika ayat ini diturunkan, belum terjadi peperangan yang dimaksudkan ayat tersebut. Akan tetapi kebenaran berita itu terbukti sembilan tahun kemudian.
2.        I’jazul Ilmi, yakni kemukjizatan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an mengungkapkan isyarat-isyarat rumit terhadap ilmu pengetahuan sebelum pengetahuan itu sendiri sanggup menemukannya. Kemudian terbukti bahwa Al-Qur’an sama sekali tidak bertentangan dengan penemuan-penemuan baru yang didasarkan pada penelitian ilmiah. Salah satu isyarat ilmu pengetahuan tersebut misalnya mengenai perbedaan sidik jari manusia yang dapat ditemukan dalam QS. Al-Qiyamah ayat 3-4 sebagai berikut:
Ü=|¡øtsr& ß`»|¡RM}$# `©9r& yìyJøgªU ¼çmtB$sàÏã ÇÌÈ   4n?t/ tûïÍÏ»s% #n?tã br& yÈhq|¡S ¼çmtR$uZt/ ÇÍÈ     
Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
Bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
3.        Al Qur’an memberikan aturan hukum atau undang-undang yang bersifat universal, mencakup segala urusan hidup dan kehidupan manusia[4]
C.       Bukti Keotentikan Al-Qur’an
Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu diantaranya adalah ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah SWT, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Tetapi dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain dan dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan Allah diatas . Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan diatas.
1.      Bukti-bukti dari Al-Quran Sendiri.
Dr. Mustafa Mahmud, mengutip pendapat rasyad Khalifah, mengemukakan bahwa didalam Al-Quran sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan keotentikannya. Huruf-huruf hija’iyah yang terdapat pada awal beberapa surat dalam Al-Quran adalah jaminan keutuhan Al-Quran sebagaimana diterima Rasullulah SAW. Tidak berlebih dan atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan oleh Al-Quran. Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan sejumlah huruf-huruf  B(i)sm All(a)h Al-R(a)hm(a)n Al-R(a)him.. Kata Ism terulang sebanyak  19 , Allah sebanyak 2698 sama dengan 142 x 19, sedangkan kata Al-Rahman sebanyak 57 atau 3 x19 dan Al-Rahim sebanyak 114 atau sama dengan 6 x 19.
2.      Bukti-bukti Kesejarahan
Al-Quran Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut sementara Ulama, dua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh dua hari. Ada beberapa faktor yang merupakan faktor-faktor pendukung bagi pembuktian otentisitas Al-Quran, yaitu :
a.       Masyarakat Arab, yang hidup pada masa turunnya Al-Quran, adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Karena itu, satu-satunya andalan mereka adalah hafalan. Dalam hal hafalan, orang Arab bahkan sampai kini dikenal sangat kuat.
b.      Masyarakat Arab khususnya pada masa turunnya Al-Quran –dikenal sebagai masyarakat sederhana dan bersahaja, kesederhanan ini, menjadikan mereka memiliki waktu luang yang cukup, disamping menambah ketajaman pikiran dan hafalan.
c.       Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahaan bahasanya dan sangat mengagumkan bukan saja bagi orang mukmin, tetapi juga orang kafir. Berbagai riwayat menhyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik seringkali secara sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat Al-Quran yang dibaca oleh kaum muslim. Kaum muslim disamping mengagumi keindahan bahasa Al-Quran, juga mengagumi kandungannya, serta menyakini bahwa ayat-ayat Al-Quran adalah petunjuk kebahagiaan dunia dan akhirat.[5]





KESIMPULAN
1.      Al-qur’an adalah Kalam Allah ta’ala yang di turunkan kepada Rasulullah dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad SAW di awali dengan surat Al-fatihah dan di akhiri dengan surat an-Naas.
2.      Secara garis besar ada dua aspek kemukjizatan Al-Qur’an, yaitu: gaya bahasa dan isi kandungannya.
3.      Al-Qur’an Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut sementara ulama, 22 tahun 2 bulan 22 hari.
4.      Bukti Keotentikan Al-Qur’an merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah SWT, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. “Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun” (sesungguhnya kami yang menurunkan Al-Quran dan kamilah pemelihara-pemelihara-Nya).


















DAFTAR PUSTAKA
Al-Thabathabaly, Muhammad Husain. Al-Qur’an fi Al-Islam, Teheran: Markaz I’lam Al-Dzikra Al- Khamisah li Intizhar AL-Tsawrah Al- Islamiyah.
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir cet. 5, Jakarta: Bulan Bintang
Ash-sholih, Subhi, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur-an (terjemahan) Tim Pustaka Firdaus dari judul asli Mabahits fi Ulum al-Qur-an, Jakarta:Pustaka Firdaus, 1991 Cet 2
LKS MA kelas X semester 1
Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an, cet. ke-27, Bandung: PT Mizan Pustaka, 1425H/2004M


[1] T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir cet. 5, (Jakarta: Bulan Bintang), 15
[2] Subhi Ash-sholih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur-an (terjemahan) Tim Pustaka Firdaus dari judul asli Mabahits fi Ulum al-Qur-an (Jakarta:Pustaka Firdaus, 1991) Cet 2, 10.
[3] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, cet. ke-27, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 1425H/2004M), 21.
[4] LKS MA kelas X semester 1
[5] Muhammad Husain Al-Thabathabaly. Al-Qur’an fi Al-Islam Markaz I’lam Al-Dzikra Al- Khamisah li Intizhar AL-Tsawrah Al- Islamiyah.Teheran, hlm.175