temukan jawabannya disini

Rabu, 01 Mei 2013


PERKEMBANGAN KOGNITIF MASA ANAK-ANAK AKHIR

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang Masalah.
Perkembangan kognitif merupakan salah satu hal penting dan harus mendapat perhatian di dalam perkembangan hidup manusia. Tidak terkecuali pada masa anak-anak akhir. Bahkan pada masa anak-anak merupakan masa yang berperan besar dalam mengembangkan kognitif seorang anak. Tetapi untuk mengetahui hal tersebut, harus diketahui pula tanda-tanda yang tampak pada seorang anak. Untuk itu, kami akan mencoba membahas hal-hal atau tanda-tanda yang terjadi pada masa anak-anak akhir yang terkait dengan perkembangan kognitifnya.
B.     Rumusan Masalah.
1.      Hal-hal yang menyangkut perkembangan kognitif pada masa anak-anak akhir.
2.      Apa saja tanda perkembangan kognitif pada masa anak-anak akhir?.











BAB II
  1. Perkembangan kognitif masa anak-anak akhir menurut Piaget.
Menurut teori kognitif Piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah dasar disebut pemikiran operasional konkrit (concrete operational thought). Menurut Piaget, operasi adalah hubungan-hubungan logis diantara konsep-konsep atau skema-skema. Sedangkan operasi konkrit adalah aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek dan peristiwa-peristiwa nyata atau konkrit dapat diukur.[1]
Banyak operasi konkrit yang diidentifikasikan oleh piaget berfokus pada cara anak-anak bernalar tentang properti objek-objek. Ciri-ciri pemikiran operasional konkret adalah:[2]
1.      Dapat melakukan operasi-operasi dengan mengubah tindakan secara mental, memperlihatkan ketrampilan-ketrampilan konservasi.
2.      Penalaran secara logis menggantikan penalaran intuitif tetapi hanya di dalam keadaan-keadaan konkret.
3.      Tidak abstrak (misalnya: tidak dapat membayangkan langkah-langkah persamaan aljabar).
4.      Ketrampilan-ketrampilan klasifikasi.
Menurut Piaget, anak-anak pada masa konkret operasional ini telah mampu menyadari konservasi, yakni kemampuan anak-anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbeda secara serempak. Hal ini adalah karena pada masa ini anak telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi-operasi, yaitu negasi, resiprokasi, dan identitas.[3]
Negasi (Negation). Pada masa pra operasional anak hanya melihat keadaan permulaan dan akhir dari deretan benda, yaitu pada mulanya keadaannya sama dan pada akhirnya keadaannya menjadi tidak sama. Anak tidak melihat apa yang terjadi diantaranya. Tetapi, pada masa konkret operasional, anak memahami proses apa yang terjadi diantara kegiatan itu dan memahami hubungan-hubungan antara keduanya.
Resiprokasi (hubungan timbal balik). Ketika anak melihat bagaimana deretan dari benda-benda itu diubah, anak mengetahui bahwa deretan benda-benda bertambah panjang tetapi tidak rapat lagi dibandingkan dengan deretan lain, karena anak mengetahui hubungan timbal balik antara panjang dan dan kurang rapat atau sebaliknya kurang panjang tetapi lebih rapat, maka anak tahu pula bahwa jumlah benda-benda yang ada pada kedua deretan itu sama.
Identitas. Anak pada masa konkrit operasional sudah bisa mengenal satu persatu benda-benda yang ada pada deretan-deretan itu. Anak bisa menghitung, sehingga meskipun benda-benda dipindahkan, anak dapat mengetahui bahwa jumlahnya akan tetap sama.
Periode ini ditandai dengan 3 kemampuan atau kecakapan baru, yaitu mengklasifikasi (mengelompokkan), menyusun, mengasosiasikan (menghubungkan atau menghitung) angka-angka/bilangan. Disamping itu, pada masa akhir masa ini anak sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah (problem solving) yang sederhana.[4]
Perkembangan memori.
  1. Memori jangka pendek.
Pada saat masa anak-anak awal, memori jangka pendek berkembang dengan baik, tetapi setelah anak berusia 7 tahun tidak terlihat tampak peningkatan yang berarti.
  1. Memori jangka panjang.
Pada saat ini memori jangka panjang terlihat peningkatan seiring dengan penambahan usia selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. Hal ini karena memori jangka panjang sangat bergantung pada kegiatan-kegiatan belajar individu ketika mempelajari dan mengingat informasi.
Selama periode pertengahan dan periode akhir anak, mereka berusaha mengurangi keterbatasan dengan menggunakan apa yang disebut dengan stategi memori (memory strategy) yaitu perilaku yang disengaja digunakan untuk meningkatkan memori. Matlin (1994) menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting, yaitu: rehearsal, organization, imagery, dan retrieval.[5]
  1. Rehearsal (pengulangan) adalah salah satu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulangi berkali-kali informasi setelah informasi tersebut disajikan. Menurut Flavell dan rekan-rekannya mengatakan bahwa penggunaan strategi pengulangan meningkat sejalan dengan bertambahnya usia dan berkolerasi positif dengan tingkat keberhasilan. Dari hal itu dapat diasumsikan bahwa tingkat pengulangan menentukan keberhasilan memori menurut Schneider dan Bjorklund. Pengulangan terjadi misalnya, ketika anak-anak mendengar suatu nomor telpon kemudian mengulangi nomor itu beberapa kali untuk meningkatkan memori mereka tentang nomor tersebut.[6]
  2. Organization (organisasi), seperti pengkategorian dengan pengelompokkan. Anak-anak yang masih kecil tidak dapat mengelompokkan secara spontan item-item yang sama untuk membantu proses memori. Akan tetapi anak-anak masa pertengahan dan akhir cenderung mengorganisasi informasi secara spontan untuk diingat, dibanding dengan anak-anak yang masih kecil.
Bjorklund dan Zeman menemukan bahwa anak-anak SD sering mengingat nama-nama teman sekelasnya menurut susunan dimana mereka duduk dalam kelas. Anak-anak sering nampak menemukan strategi organisasi ini secara kebetulan.
  1. Imagery (perbandingan) adalah tipe dari karakteristik pembayangan dari seseorang. Perbandingan merupakan cara strategi memori yang berkembang selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. Demikian pentingnya penggunaan strategi perbandingan dalam meningkatkan memori anak, maka Fly dan Lupart merekomendasikan bahwa hendaknya para pendidik memberikan lebih banyak pelajaran tentang bagaimana belajar.
  2. Retrieval (pemunculan kembali) adalah proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan. Anak-anak yang diberi suatu isyarat kemunculan kembali tidak berusaha menyelidiki secara mendalam memori mereka.
Meskipun demikian, seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak belajar bagaimana menggunakan keempat strategi. Mereka akan menyadari apabila mereka ingin mengingat sesuatu, mereka akan menggunakan strategi-strategi memori tersebut daripada hanya sekedar mempelajari bahwa mereka akan mengingat materi-materi yang penting.
Selain strategi memori yang mempengaruhi memori anak adalah tingkat usia, sifat-sifat anak (sikap, motivasi, dan kesehatan), serta pengetahuan yang telah diperoleh anak sebelumnya.
KESIMPULAN
  1. Menurut Piaget pemikiran usia anak-anak sekolah dasar disebut pemikiran operasional konkrit.
  2. Tanda-tanda dari pemikiran operasional konkrit sebagai berikut: dapat melakukan operasi-operasi dengan mengubah tindakan secara mental, memperlihatkan ketrampilan-ketrampilan konservasi, penalaran secara logis menggantikan penalaran intuitif tetapi hanya di dalam keadaan-keadaan konkret, tidak abstrak (misalnya: tidak dapat membayangkan langkah-langkah persamaan aljabar), ketrampilan-ketrampilan klasifikasi.
  3. Pada masa ini, anak telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi-operasi, yaitu negasi, resiprokasi, dan identitas.
  4. Pada masa ini, memori jangka pendek tidak terlihat tampak peningkatan yang berarti
  5. Pada saat ini memori jangka panjang terlihat peningkatan seiring dengan penambahan usia selama masa pertengahan dan akhir anak-anak.
  6. Matlin (1994) menyebutkan 4 macam strategi memori yang penting, yaitu: rehearsal, organization, imagery, dan retrieval.


DAFTAR PUSTAKA
Desmita, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008.
Santrock, Jhon W, Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, Jakarta: Erlangga, 2002.
Rochmah, Elfi Yuliani, Psikologi perkembangan, (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2005.


[1]      Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 156.
[2]       Jhon W. Santrock, Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, (Jakarta: Erlangga, 2002), hal. 309.  
[3]       Desmita, Psikologi Perkembangan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2008), hal. 156-157.
[4]       Elfi Yuliani Rochmah, Psikologi perkembangan, (Ponorogo: STAIN Ponorogo Press, 2005), hal. 168.
[5]       ibid
[6]       Jhon W. Santrock, Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup, (Jakarta: Erlangga, 2002), hal. 314.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar