AL-QUR’AN DAN BUKTI KEOTENTIKANNYA
Standar Kompetensi:
1.
Memahami
pengertian Al-Qur’an dan bukti keotentikannya.
Kompetensi Dasar:
1.1
menjelaskan
pengertian Al-Qur’an menurut para ahli
1.2
membuktikan
keotentikan Al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatannya,
dan sejarahnya.
1.3
Menunjukkan
perilaku orang yang meyakini kebenaran Al-Qur’an
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Al-Qur’an
adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi dan
Rasul-Nya yang terakhir yakni Nabi Muhammad SAW. Setiap muslim wajib beriman
kepada kitab suci al-Qur’an dan juga kitab-kitab suci yang diturunkan
sebelumnya, yaitu: Zabur, Taurat dan Injil. Al-Qur’an berfungsi untuk
membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum
yang telah ditetapkannya.
Setiap muslim seharusnya mengenal kitab suci al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya (way of life). Untuk mengenal al-Qur’an, hendaknya dimulai dengan memahami apa pengertian al-Qur’an serta segala hal yang berkaitan dengannya. Dan yang paling penting lagi adalah memahami isinya, untuk selanjutnya dapat melaksanakan ajaran-ajaranya. Bagi Nabi Muhammad SAW., al-Qur’an berfungsi sebagai mu’jizat yang terbesar yang berlaku kekal abadi. Sebagai kitab mu’jizat, al-Qur’an tidak mungkin dapat ditiru dari aspek manapun dan oleh siapapun, karena Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu Allah SWT.
Setiap muslim seharusnya mengenal kitab suci al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya (way of life). Untuk mengenal al-Qur’an, hendaknya dimulai dengan memahami apa pengertian al-Qur’an serta segala hal yang berkaitan dengannya. Dan yang paling penting lagi adalah memahami isinya, untuk selanjutnya dapat melaksanakan ajaran-ajaranya. Bagi Nabi Muhammad SAW., al-Qur’an berfungsi sebagai mu’jizat yang terbesar yang berlaku kekal abadi. Sebagai kitab mu’jizat, al-Qur’an tidak mungkin dapat ditiru dari aspek manapun dan oleh siapapun, karena Al-Qur’an adalah benar-benar wahyu Allah SWT.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
Al-Qur’an menurut para ahli?
2.
Apa bukti
keotentikan Al-Qur’an ditinjau dari segi keunikan redaksinya, kemukjizatannya,
dan sejarahnya?
BAB II
A.
Pengertian
Al-Qur’an
Secara bahasa Al-Qur’an merupakan masdar dari kata
qara’a yaqra’u qur’aanan, yang artinya bacaan atau yang dibaca. Karena di dunia
ini tidak ada bacaan, buku, atau kitab seperti Al-Qur’an yang senantiasa
dibaca, dimusabaqohkan dan dikaji oleh berjuta-juta manusia, hal tersebut juga
diperkuat oleh Prof. Chotibul Umam bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang paling
banyak dibaca orang di seluruh dunia.[1]
Pengertian di atas dapat dibaca dalam surat
Al-Qiyamah ayat 17-18 dan Q.S Fushilat ayat 3
Sedangkan pengertian Al-Qur’an menurut istilah terdapat
banyak definisi yang dikemukakan para ahli, diantaranya:
a.
Syaikh Muhammad Khudlori
Beik dalam bukunya Tarikh At Tasyri’ Al Islami
اَلْقُرْءَانُ
هُوَ اللَّفْظُ الْعَرَبِيُّ الْمُنَزَّلُ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لِلتَّدَبُّرِ وَالتَّذَكُّرِ الْمَنْقُوْلُ مُتَوَاتِرًا وَهُوَ مَا
دَفَّـتَيْنِ الْمَبْدُوْءُ بِسُوْرَةِ الْفَـاتِحَةِ وَالْمَخْتُوْمُ بِسُوْرَةِ
النَّـاسِ
Al qur’an adalah firman
Allah SWT yang berbahasa arab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk
dipahami isinya dan diingat selalu yang disampaikan dengan jalan mutawatir,
ditulis dalam mushaf yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri surat An
Nas.
b.
Rumusan lain dikemukakan
oleh Syekh Muhammad Abduh dalam kitabnya Risalaatut Tauhid:
Al Kitab atau Al-Qur’an
ialah bacaan yang telah ditulis dalam mushaf-mushaf yang terjaga dalam
hafaan-hafalan umat Islam.
c.
Sedangkan menurut rumusan
Dr. Shabhi As-Shalih
Al-Qur’an adalah kitab
Allah sebagai mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang termaktub
dalam mushaf-mushaf yang disampaikan dengan jalan mutawatir yang bernilai
ibadah dalam membacanya.[2]
Dari ketiga pendapat di atas, dapat disimpulkan beberapa
unsur dalam pengertian Al-Qur’an sebagai berikut:
1.
Al-Qur’an adalah firman
Allah SWT.
2.
Al-Qur’an terdiri dari
lafadz berbahasa Arab.
3.
Al-Qur’an diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW.
4.
Al-Qur’an merupakan kitab
Allah SWT yang mengandung mukjizat bagi Nabi Muhammad SAW yang diturunkan
dengan perantara malaikat Jibril.
5.
Al-Qur’an disampaikan
dengan cara mutawatir.
6.
Al-Qur’an merupakan
bacaan mulia dan membacanya merupakan ibadah.
7.
Al-Qur’an ditulis dalam
mushaf-mushaf yang diawali dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri surat An-Nas.
8.
Al-Qur’an senantiasa
terjaga kemurniannya dengan adanya sebagian orang Islam yang menjaganya dengan
menghafal Al-Qur’an.
B.
Kemukjizatan Al-Qur’an
1.
Pengertian Mukjizat dan
I’jazul Al-Qur’an.
Secara bahasa kata Mukjizat berbentuk isim Fa’il yang
berasal dari kata:
اعجز- يعجز- اعجازا- معجز/ معجزة
Yang berarti melemahkan
atau mengalahkan lawan. Mukjizat juga diartikan sebagai sesuatu yang menyalahi
tradisi atau kebiasaan.
Secara istilah, Manna’ Qaththan mendefinisikan sebagai
berikut:
المعجزة هي امر خارق للعادة مقرون بالتحدى سالم عن المعارضة
Mukjizat adalah sesuatu
yang menyalahi kebiasaan disertai dengan tantangan dan selamat dari perlawanan.
Mukjizat hanya diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan
Rasul-Nya dalam menyampaikan risalah Ilahi terutama untuk menghadapi umatnya
yang menolak atau tidak mengakui kerasulan mereka. Mukjizat berfungsi sebagai
bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerasulan mereka, bahwa mereka
adalah benar-benar para nabi dan rasul Allah yang membawa risalah kebenaran
dari Allah SWT. Adapun tujuan diberikannya mukjizat adalah agar para Nabi dan
Rasul mampu melemahkan dan mengalahkan orang-orang kafir yang menentang dan
tidak mengakui atas kebenaran kenabian dan kerasulan mereka.
Dengan demikian yang dimaksud I’jazul Qur’an adalah
menetapkan kelemahan manusia baik secara individual maupun kolektif untuk
mendatangkan semisal Al-Qur’an. Mukjizat Al-Qur’an bertujuan untuk menumbuhkan
kesadaran pada manusia bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT dan sekaligus
merupakan bukti kerasulan Muhammad SAW.
Dalam hal ini Imam Al-Suyuthi, sebagaimana dikutip oleh
Dr. Syahrin Harahap, MA, mengungkapkan bahwa: Adanya i’jaz Al-Qur’an itu ada
kaitannya dengan persepsi yang salah dari pihak orang arab terhadapnya.
Sehingga Al-Qur’an memberi jawaban terhadap persepsi mereka yang keliru itu,
dengan cara menawarkan agar mereka menunjukkan kekuatan argumentasi dan
kebenarannya. Akan tetapi orang Arab sama sekali tidak dapat membuktikan
kebenaran mereka, sementara Al-Qur’an secara meyakinkan menunjukkan
kebenarannya. Disinilah letak i’jaz Al-Qur’an itu.
2.
Aspek-aspek kemukjizatan
Al-Qur’an
Kemukjizatan Al-Qur’an sesungguhnya terdapat dalam
dirinya sendiri. Tegasnya kemukjizatan Al-Qur’an ada dalam kandungannya, bukan
di luarnya. Jadi, kitab suci ini tidak membutuhkan keterangan lain di luar
dirinya untuk membuktikan bahwa ia adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW.
Secara garis besar ada
dua aspek kemukjizatan Al-Qur’an, yaitu:
a.
Gaya bahasa (Uslub)
Al-Qur’an mempunyai gaya
bahasa yang khas yang tidak dapat ditiru para sastrawan Arab sekalipun, karena
susunan yang indah yang berlainan dengan setiap susunan dalam bahasa Arab.
Mereka melihat Al-Qur’an memakai bahasa dan lafadz mereka, tetapi ia bukan puisi,
prosa, atau syair dan mereka tidak mampu membuat seperti itu (meniru
Al-Qur’an). Mereka tidak pernah mampu untuk menandinginya dan putus asa lalu
merenungkannya, kemudian merasa kagum dan menerimanya, lalu sebagian masuk
Islam. Contoh dalam sejarah diterangkan bahwa Umar bin Khattab menyatakan diri
masuk Islam setelah mendengar ayat-ayat pertama surat Thaaha, dan masih banyak
contoh lainnya. Inilah bukti kemukjizatan Al-Qur’an dari segi bahasanya.
Uslub Al-Qur’an sangatlah
indah. Keindahan uslub Al-Qur’an benar-benar telah membuat orang-orang Arab
atau luar Arab kagum dan terpesona. Di dalam Al-Qur’an terkandung nilai-nilai
istimewa dimana tidak akan terdapat dalam ucapan manusia menyamai isi yang
terkandung di dalamnya.
Hal lain yang dapat
dicatat dari kemukjizatan Al-Qur’an dari aspek bahasa adalah ketelitian,
kerapian, dan keseimbangan kata-kata yang digunakannya. Hal itu dapat dilihat
pada bukti-bukti sebagai berikut:
1)
Ketelitian dalam
pengungkapan kata-kata.
Suatu surat yang diawali
dengan huruf-huruf tertentu, di dalamnya selalu terdapat bahwa huruf-huruf itu,
dalam jumlah rata-raat, lebih banyak dan berulang jika dibandingkan dengan
huruf-huruf lainnya.
2)
Keseimbangan penggunaan
kata-kata
Dalam Al-Qur’an terlihat
pula keseimbangan kata-kata yang digunakan secara simetris, misalnya: kata الحياة berjumlah 145 kali, sama dengan kata الموت yang berjumlah 145 kali.[3]
b.
Isi kandungannya
Dilihat dari isi
kandungannya, kemukjizatan Al-Qur’an dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu:
1.
Al-Qur’an mengungkapkan
berita-berita yang bersifat ghaib.
Hal-hal yang bersifat
ghaib yang diungkap dalam Al-Qur’an dapat dipilah menjadi 2 yaitu:
Pertama, berita menyangkut masa lalu. Sebagai contohnya: Kisah
Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Ismail, Musa, dan kisah lain di masa lalu. Salah satu
contoh lainnya sebagaimana diungkapkan dalam QS. Yunus ayat 92:
92. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat
menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya
kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.
Ayat tersebut
menceritakan tentang Fir’aun yang diawetkan dengan cara dibalsem, sehingga utuh
sampai sekarang. Hal itu bersifat ghaib, karena tidak ada orang yang
mengenalnya. Akan tetapi berita Al-Qur’an itu ternyata terbukti kebenarannya
kemudian.
Kedua, berita tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi
baik di dunia maupun di akhirat, misalnya:
$O!9# ÇÊÈ ÏMt7Î=äñ
ãPr9$#
ÇËÈ þÎû oT÷r& ÇÚöF{$#
Nèdur
-ÆÏiB
Ï÷èt/ óOÎgÎ6n=yñ
cqç7Î=øóuy ÇÌÈ
Alif laam Miim. telah dikalahkan bangsa
Rumawi, di negeri
yang terdekat dan
mereka sesudah dikalahkan itu akan menang
Ayat tersebut
menceritakan tentang kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia. Padahal
ketika ayat ini diturunkan, belum terjadi peperangan yang dimaksudkan ayat
tersebut. Akan tetapi kebenaran berita itu terbukti sembilan tahun kemudian.
2.
I’jazul Ilmi, yakni kemukjizatan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an
mengungkapkan isyarat-isyarat rumit terhadap ilmu pengetahuan sebelum
pengetahuan itu sendiri sanggup menemukannya. Kemudian terbukti bahwa Al-Qur’an
sama sekali tidak bertentangan dengan penemuan-penemuan baru yang didasarkan
pada penelitian ilmiah. Salah satu isyarat ilmu pengetahuan tersebut misalnya
mengenai perbedaan sidik jari manusia yang dapat ditemukan dalam QS. Al-Qiyamah
ayat 3-4 sebagai berikut:
Ü=|¡øtsr&
ß`»|¡RM}$# `©9r&
yìyJøgªU
¼çmtB$sàÏã ÇÌÈ 4n?t/ tûïÍÏ»s%
#n?tã br& yÈhq|¡S ¼çmtR$uZt/
ÇÍÈ
Apakah manusia mengira,
bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
Bukan demikian,
sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
3.
Al Qur’an memberikan
aturan hukum atau undang-undang yang bersifat universal, mencakup segala urusan
hidup dan kehidupan manusia[4]
C.
Bukti
Keotentikan Al-Qur’an
Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan
berbagai ciri dan sifat. Salah satu diantaranya adalah ia merupakan kitab yang
keotentikannya dijamin oleh Allah SWT, dan ia adalah kitab yang selalu
dipelihara. Tetapi dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain dan
dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya
akan jaminan Allah diatas . Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan diatas.
1.
Bukti-bukti dari Al-Quran
Sendiri.
Dr.
Mustafa Mahmud, mengutip pendapat rasyad Khalifah, mengemukakan bahwa didalam
Al-Quran sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan keotentikannya.
Huruf-huruf hija’iyah yang terdapat pada awal beberapa surat dalam Al-Quran
adalah jaminan keutuhan Al-Quran sebagaimana diterima Rasullulah SAW. Tidak
berlebih dan atau berkurang satu huruf pun dari kata-kata yang digunakan oleh
Al-Quran. Kesemuanya habis terbagi 19, sesuai dengan sejumlah huruf-huruf
B(i)sm All(a)h Al-R(a)hm(a)n Al-R(a)him.. Kata Ism terulang
sebanyak 19 , Allah sebanyak 2698 sama dengan 142 x 19, sedangkan
kata Al-Rahman sebanyak 57 atau 3 x19 dan Al-Rahim sebanyak 114
atau sama dengan 6 x 19.
2. Bukti-bukti Kesejarahan
Al-Quran
Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut sementara
Ulama, dua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh dua hari. Ada
beberapa faktor yang merupakan faktor-faktor pendukung bagi pembuktian
otentisitas Al-Quran, yaitu :
a. Masyarakat Arab, yang hidup pada masa turunnya
Al-Quran, adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Karena itu,
satu-satunya andalan mereka adalah hafalan. Dalam hal hafalan, orang Arab
bahkan sampai kini dikenal sangat kuat.
b. Masyarakat Arab khususnya pada masa turunnya
Al-Quran –dikenal sebagai masyarakat sederhana dan bersahaja, kesederhanan ini,
menjadikan mereka memiliki waktu luang yang cukup, disamping menambah ketajaman
pikiran dan hafalan.
c. Al-Quran mencapai tingkat tertinggi dari segi
keindahaan bahasanya dan sangat mengagumkan bukan saja bagi orang mukmin,
tetapi juga orang kafir. Berbagai riwayat menhyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum
musyrik seringkali secara sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat
Al-Quran yang dibaca oleh kaum muslim. Kaum muslim disamping mengagumi
keindahan bahasa Al-Quran, juga mengagumi kandungannya, serta menyakini bahwa
ayat-ayat Al-Quran adalah petunjuk kebahagiaan dunia dan akhirat.[5]
KESIMPULAN
1.
Al-qur’an adalah Kalam Allah
ta’ala yang di turunkan kepada Rasulullah dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad
SAW di awali dengan surat Al-fatihah dan di akhiri dengan surat an-Naas.
2.
Secara garis besar ada
dua aspek kemukjizatan Al-Qur’an, yaitu: gaya bahasa dan isi kandungannya.
3.
Al-Qur’an Al-Karim turun dalam masa sekitar 22 tahun atau tepatnya, menurut
sementara ulama, 22 tahun 2 bulan 22 hari.
4.
Bukti Keotentikan
Al-Qur’an merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh
Allah SWT, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. “Inna nahnu nazzalna
al-dzikra wa inna lahu lahafizhun” (sesungguhnya kami yang menurunkan
Al-Quran dan kamilah pemelihara-pemelihara-Nya).
DAFTAR PUSTAKA
Al-Thabathabaly, Muhammad Husain. Al-Qur’an fi Al-Islam, Teheran: Markaz I’lam Al-Dzikra Al- Khamisah li
Intizhar AL-Tsawrah Al- Islamiyah.
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir cet. 5, Jakarta: Bulan
Bintang
Ash-sholih, Subhi, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur-an (terjemahan)
Tim Pustaka Firdaus dari judul asli Mabahits fi Ulum al-Qur-an, Jakarta:Pustaka
Firdaus, 1991 Cet 2
LKS MA kelas X semester 1
Shihab, M. Quraish, Membumikan
Al-Qur’an, cet. ke-27, Bandung: PT Mizan Pustaka, 1425H/2004M
[1] T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir cet. 5, (Jakarta: Bulan
Bintang), 15
[2] Subhi Ash-sholih, Membahas Ilmu-Ilmu
Al-Qur-an (terjemahan) Tim Pustaka Firdaus dari judul asli Mabahits
fi Ulum al-Qur-an (Jakarta:Pustaka Firdaus, 1991) Cet 2, 10.
[3] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, cet. ke-27,
(Bandung: PT Mizan Pustaka, 1425H/2004M), 21.
[5] Muhammad Husain
Al-Thabathabaly. Al-Qur’an fi Al-Islam Markaz I’lam Al-Dzikra Al- Khamisah
li Intizhar AL-Tsawrah Al- Islamiyah.Teheran, hlm.175
Tidak ada komentar:
Posting Komentar