temukan jawabannya disini

Selasa, 11 Juni 2013

ketrampilan menjelaskan pelajaran



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan suatu pola interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Seorang siswa dikatakan belajar apabila dapat mengetahui sesuatu yang dipahami sebelumnya, dapat melakukan atau menggunakan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat digunakannya termasuk sikap tertentu yang mereka miliki. Sebaliknya seorang guru yang dikatakan telah mengajar apabila dia telah membantu siswa untuk memperoleh perubahan yang dikehendaki.
Guru sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar yang bertugas menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang lebih efektif dan efisien. Sebelum mengajar, guru harus merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis, sehingga dapat terampil dalam proses belajar mengajar
Guru terampil sebaiknya melakukan berbagai upaya untuk peningkatan prestasi belajar siswa, hal tersebut merupakan tanggung jawab semua guru dalam memperoleh kualitas sumber daya manusia untuk mewujudkan hal di atas seorang guru dituntut untuk memiliki keahlian mengajar seperti: keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan memberi variasi, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan mengelola kelas, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil dan keterampilan menjelaskan. Dengan demikian keahlian mengajar tersebut harus senantiasa dikembangkan oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam proses belajar mengajar banyak metode-metode yang dapat digunakan dalam rangka penyampaian suatu bidang studi. Namun metode-metode yang telah ada itu kadang-kadang tidak menjamin suatu keberhasilan. Itu tergantung pada guru bagaimana memilih suatu metode yang sesuai dan cocok dengan materi yang disampaikan atau saat berlangsung proses belajar mengajar, semua itu merupakan kemampuan dan keterampilan guru dalam menganalisa semua metode dan penguasaannya. Untuk pembahasan kali ini akan difokuskan kepada masalah keahlian guru dalam menjelaskan pelajaran.
B.       Rumusan Masalah
Dari paparan di atas, dapat diambil beberapa rumusan sebagai berikut:
1.      Apa pengertian dari keahlian menjelaskan pelajaran?
2.      Apa tujuan keahlian menjelaskan pelajaran?
3.      Apa sajakah komponen-komponen keahlian menjelaskan?






















BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Dan Tujuan
Dari segi etimologis, kata menjelakan mengandung makna “membuat sesuatu menjadi jelas”. Dalam kegiatan menjelaskan terkandung makna pengkajian informasi secara sistematis sehingga yang menerima penjelasan mempunyai gambaran yang jelas tentang hubungan informasi yang satu dengan yang lain.[1]
Sedangkan yang dimaksud dengan keahlian dasar mengajar menjelaskan dalam pembelajaran ialah keahlian menyajikan informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan antara satu bagian dengan lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dengan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui.[2]
Sedangkan tujuan memberikan penjelasan antara lain:
1.   Membimbing murid untuk mendapat dan memahami hukum, fakta, definisi dan prinsip secara obyektif.
2.   Melibatkan murid untuk berfikir dengan memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan
3.   Untuk mendapat balikan dari murid mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalapahaman mereka.
4.   Membimbing murid untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti- bukti dalam pemecahan masalah.[3]
B.       Komponen-komponen keahlian menjelaskan
Keahlian memberikan penjelasan dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian besar, yaitu keahlian merencanakan penjelasan dan keahlian menyajikan penjelasan. Keberhasilan suatu penjelasan sangat tergantung dari tingkat penguasaan guru terhadap kedua jenis komponen keahlian tersebut. Oleh karena itu guru dituntut untuk mampu merencanakan dan menyajikan penjelasan.
1.      Keahlian merencanakan penjelasan. Merencanakan penjelasan mencakup 2 sub komponen, yaitu yang berkaitan dengan isi pesan atau materi pembelajaran yang akan dijelaskan dan yang berkaitan dengan siswa sebagai penerima pesan.[4]
a.       Merencanakan isi pesan (materi)
Merencanakan isi pesan atau materi pembelajaran merupakan tahap awal dalam proses menjelaskan. Tidak dapat dipungkiri bahwa perencanaan yang matang tentang materi yang akan diijelaskan merupakan awal keberhasilan dari kegiatan menjelaskan. Perencanaan ini mencakup 3 hal penting, yaitu:
1)      Menganalisis masalah yang akan dijelaskan secara keseluruhan, termasuk unsur-unsur yang terkait dalam masalah ini. Misalnya, penjelasan tentang perkembangan kosakata bahasa Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari unsur-unsur komunikasi dan informasi antarsuku bangsa dan antar bangsa serta ciri khas bahasa indonesia itu sendiri.
2)      Menetapkan jenis hubungan antar unsur-unsur yang berkaitan tersebut. Jenis hubungan dapat berupa perbedaan, pertentangan, saling menunjang atau hubungan prasyarat. Sebagai contoh, perbedaan tekanan udara menyebabkan terjadinya angin atau udara yang mengalir.
3)      Menelaah hukum, rumus, prinsip atau bgeneralisasi yang mungkin dapat digunakan dalam menjelaskan masalahn yang ditentukan. Termasuk dalam perencanaan ini kemungkinan penerapan hukum tersebut dalam peristiwa atau situasi lain.
b.      Menganalisis karakteristik penerimaan pesan.
Dalam merencanakan suatu penjelasan karakteristik siswa sebagai penerima pesan perlu dipertimbangkan dengan cermat sasaran utama penjelasan yang diberikan guru adalah pemahaman siswa. Mampu tidaknya siswa memahami penjelasan guru sangat tergantung dari kemampuan guru menganalisis karakteristik siswa, kemudian menerapkan hasil analisis tersebut dalam merencanakan dan menyajikan penjelsan. Karakteristik siswa yang perlu dianalisis antara lain mencakup usia, jenis kelamin, jenjang kemampuan, latar belakang keluarga, dan lingkungan belajar. Dalam merencanakan penjelasan, perbedaan-perbedaan karakteristik siswa yang satu dengan yang lain harus selalu terbayang di benak guru.
2.      Keterampilan menyajikan penjelasan
Keterampilan menyajikan penjelasan memegang peranan pentingdalam pelaksanaan rencana penjelasan yang sudah baik. Keterampilan menyajikan penjelasana terdiri dari komponen-komponen berikut.
1.      Kejelasan
Kejelasan dari suatu penjelasan teergantung dari berbagai faktor seperti: kelancaran dan kejelasan ucapan dalam berbicara, susunan kalimat yang baik dan benar, penggunaan istilah-istilah yang sesuai dengan perbendaharaan bahasa siswa, serta penggunaan waktu “dalam sejenak” untuk melihat reaksi siswa terhadap penjelasan yang diberikan. Kelancaran dan kejelasan ucapan dalam berbicara sangat menentukan kualitas suatu penjelaasan. Pembicaraan yang tersendat-sendat, terlalu banyaknya bunyi yang tidak berfungsi, seperti eee, ah, eh, atau “apa ya?, apa ya”, serta ketidakjelasan ucapan sangat mengganggu suatu penjelasan. Istilah-istilah baru yang masih asing bagi siswa hendaknya diberi definisi yang mudah dipahami oleh siswa. Akhirnya, susunan kalimat dengan tata bahasa yang baku akan sangat membantu siswa untuk memahami penjelasan yang diberikan.
2.      Penggunaan contoh dan ilustrasi
Suatu penjelasan akan lebih menarik dan mudah dipahami jika disertai dengan contoh dan ilustrasi yang tepat. Konsep yang sulit dan kompleks dapat dipermudah dengan pemberian contoh dan ilustrasi yang diambil dari kehidupan nyata siswa. Contoh-contoh dapat berupa contoh kongkrit dalam kehidupan, dapat pula berupa ilustrasi yang diambil dari bidang lain yang kira-kira mudah dipahami oleh siswa.Pemberian contoh mutlak perlu dalam penjelasan berbagai hukum dan dalil atau pernyataan umum. Pola pemberian contoh dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pola induktif dan pola deduktif. Dalam pola induktif, comtoh-contoh diberikan terlebih dahulu, kemudian berdasarkan contoh-contoh tersebut, dalil, hukum atau generalisasi disusun. Sementara itu, dalam pola deduktif, dalil hukum atau generalisasi diberikan lebih dahulu, kemudian baru diikuti oleh contoh-contoh. Pola yang dianut tentu harus sesuai dengan bidang studi, topik yang dibahas, serta karakteristik siswa.
3.      Pemberian tekanan
Dalam memberikan penjelasan, sering terjadi guru berbicara panjang lebar tentang hal-hal sebenarnya sangat tipis kaitannya dengan masalah pokok yang dijelaskan. Akibatnya, setelah berakhirnya penjelasan, siswa tidak tahu sebenarnya apa yang dijelaskan oleh guru. Dengan perkataan lain, siswa tidak dapat menangkap inti permasalahan yang dijelaskan.Untuk menghindari terjadinya hal-hal tersebut, guru hendaknya memeberikan tekanan pada “inti masalah” yang dijelaskan, serta membatasi diri dalam menyampaikan cerita-cerita sampingan. Ada dua sub keahlian yang harus dikuasai oleh guru dalam memberikan tekanan, yaitu variasi gaya mengajar dan membuat struktur sajian.
Variasi gaya mengajar memberi peluang bagi guru untuk mengubah suara ketika mengucapkan butir-butir penting disertai mimik dan gerak yang sesuai. Misalnya,  guru menyampaikan inti masalah dengan nada berat dan dalam, sambil menunjuk gambar/tulisan yang berkaitan dengan inti masalah tersebut.
Struktur sajian yang dibuat oleh guru akan membantu siswa memahami arah sajian/penjelasan yang diberikan. Struktur sajian dapat dibuat dalam bentuk ikhtisar, pengulangan, parafrase (menyataka kembali dengan kata-kata/kalimat lain), serta memberi isyarat lisan seperti pertam, kedua, ketiga, dan seterusnya.cara seperti ini, mencerminkan tertatanya secara sistematis masalah yang dijelaskan guru sehingga siswa mudah memahaminya. Disamping itu dalam memberikan tekanan, guru dapat menggunakan isyarat ungkapan lain, seperti “perhatikan ini baik-baik”,”yang terpenting adalah…..”atau “puncak dari semua ini adalah….”.
4.      Balikan.
Tujuan utama guru dalam memberikan penjelasan adalah agar siswa memahami masalah yang dijelaskan oleh guru. Oleh karena itu, selama memberikan penjelasan, guru hendaknya meluangkan waktu untuk memeriksa pemahaman para siswa dengan cara mengajukan pertanyaan atau melihat ekspresi wajah siswa setelah mendengarkan penjelasan guru. Dengan cara seperti ini, guru akan mendapatkan balikan dari penjelasan yang diberikan.Berdasarkan balikan tersebut, guru mengubah teknik penjelasannya, misalnya dengan memberi lebih banyak contoh, meminta siswa mencari contoh sendiri menggunakan bahan yang lebih sederhana atau mengulangi penjelasan tentang masalah yang belum dipahami oleh siswa.Perlu ditambahkan bahwa tingkat pemahaman siswa tidak dapat dipisahkan dari minat dan sikap siswa terhadap hal yang dijelaskan. Hal atau masalah yang menarik dan dianggap bermanfaat oleh siswa akan lebih mudah dipahami dibandingkan dengan hal-hal membosankkan dan dianggap tidak bermanfaat. Oleh karena itu, dalam menjaring balikan, guru hendaknya juga menjaring sikap dan minat siswa terhadap masalah/topik yang dijelaskan.[5]

BAB III
KESIMPULAN
Keterampilan menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi dan contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui. Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan salah satu aspek yang amat penting dari kegiatan guru dalam berinteraksi dengan siswa didalam kelas.

DAFTAR PUSTAKA
Usman, Muh. Uzer, Menjadi Guru Profesional, Cet.XVII; Bandung: Rosdakarya, 2005.
http://alwasmuisict.wordpress.com/2012/01/09/makalah-keterampilan-menjelaskan/






[1] http://alwasmuisict.wordpress.com/2012/01/09/makalah-keterampilan-menjelaskan/
[3] Muh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Cet.XVII;( Bandung: Rosdakarya, 2005), 88-89
[5] ibid

Minggu, 02 Juni 2013

KEPRIBADIAN GURU



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Salah satu penyebab rendahnya moral/ahlak generasi saat ini adalah  rendahnya moral para guru dan orang tua. Kecenderungan tugas guru hanya mentransfer ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan nilai-nilai moral yang terkandung dalam ilmu pengetahuan tersebut, apalagi kondisi pembelajaran saat ini sangat berorientasi pada perolehan angka-angka sebagai standarisasi kualitas pendidikan.
Setiap orang yang pernah sekolah, pastilah berhubungan dengan guru dan mempunyai gambaran tentang kepribadian guru. Walaupun gambaran tentang guru tidak lengkap dan mungkin tidak benar seluruhnya, namun orang akan berinteraksi dengan guru.
Guru adalah pribadi yang menentukan maju atau tidaknya sebuah bangsa dan peradaban manusia. Ditangannya, seorang anak yang awalnya tidak tahu apa-apa menjadi pribadi jenius. Melalui sepuhannyalah, lahir generasi-generasi unggul. Maka dari itu, didalam makalah ini akan dibahas tentang kepribadian guru.
B.       Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, dapat diambil beberapa rumusan masalah, sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan kepribadian guru?
2.      Bagaimana perkembangan kepribadian guru ?
3.      Apa saja ciri-ciri stereotip guru ?






BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian kepribadian guru
Kepribadian diartikan sebagai sifat-sifat yang membedakan seseorang dari yang lain. Tiap orang yang pernah sekolah dan berhubungan dengan guru mempunyai gambaran tertentu tentang kepribadian guru. Ternyata banyak kesamaan mengenai gambaran orang pada umumnya tentang guru sehingga terbentuklah stereotip guru. Gambaran tentang guru tampak dalam cerita-cerita, film, sandiwara, karikatur dalam permainan peranan oleh anak-anak yang belum bersekolah.[1]
Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing sesuai dengan ciri-ciri yang miliki. Kepribadian sebenarnya adalah suatu yang abstrak, hanya dapat dilihat lewat penampilan, tindakan, ucapan, cara berpakaian, dan cara menghadapi setiap persoalan.[2] Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan fisik. Oleh karena itu masalah kepribadian adalah sesuatu hal yang sangat menentukan tinggi rendahnya kewibawaan seorang guru dalam pandangan anak didik atau masyarakat.[3]
B.       Perkembangan Pribadi Guru
Kepribadian guru terbentuk atas pengaruh kode kelakuan seperti yang diharapkan oleh masyarakat dan sifat pekerjaannya. Guru harus menjalankan peranannya menurut kedudukannya dalam berbagai situasi sosial. Kelakuan yang tidak sesuai dengan peranan itu akan mendapat kecaman dan harus dielakkan.[4]
Orang tua murid akan memandang guru sebagai partner yang setaraf kedudukannya dan mempercayakan anak mereka untuk diasuh oleh guru. Dalam menjalankan peranannya sebagai guru ia lambat laun membentuk kepribadiannya.[5]
Apa yang terjadi dengan guru juga terdapat pada orang lain yang mempunyai kedudukan dan peranan tertentu. Namun ada pula orang yang hanya berkelakuan menurut jabatannya selama ia menjalani peran itu seperti halnya pegawai kantor, saudagar atau sopir.[6]
Kedudukannya sebagai guru akan membatasi kebebasannya dan dapat pula membatasi pergaulannya. Ia tidak akan diajak melakukan kegiatan yang rasanya kurang layak bagi guru.[7]
Sosok kepribadian guru yang ideal menurut Islam telah ditunjukkan pada keguruan Rasulullah SAW yang bersumber dari Al-Qur’an. Tentang kepribadian Rasulullah ini, Al-Qur’an telah menegaskan:
ôs)©9 tb%x. öNä3s9 Îû ÉAqßu «!$# îouqóé& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöquø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx.
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Sebagai guru pendidikan Agama Islam, sudah sewajarnya apabila keguruan Rasulullah diimplementasikan dalam praktek pembelajaran.[8]
C.      Ciri-ciri Stereotip Guru
Peranan guru mempengaruhi kelakuannya. Karena tuntutan dan harapan masyarakat dari guru banyak persamaannya, maka ciri-ciri kepribadian guru juga banyak menunjukkan persamaan. Menurut suatu penelitian pada umumnya terdapat ciri-ciri yang berikut pada guru:
1)      Guru tidak memperlihatkan kepribadian yang fleksibel, cenderung mempunyai pendirian yang tegas dan mempertahankannya.
2)      Guru pandai menahan diri. Ia hati-hati dan tidak segera menceburkan diri dalam pergaulan dengan orang lain.
3)      Guru cenderung untuk menjauhkan diri karena hambatan batin untuk bergaul secara intim dengan orang lain.
4)      Guru berusaha menjaga harga diri dan merasa keterikatan kelakuannya pada norma-norma yang berkenaan dengan kedudukannya.
5)      Guru cenderung bersikap otoriter dan ingin “menggurui” dalam diskusi.
6)      Guru cenderung bersikap konservatif
7)      Guru pada umumnya tidak didorong oleh motivasi yang kuat untuk menjadi guru.
8)      Guru pada umumnya tidak mempunyai ambisi yang kuat untuk mencapai kemajuan.
9)      Guru cenderung untuk mengikuti pimpinan daripada memberi pimpinan.
10)  Guru dipandang kurang agresif dalam menghadapi masalah.
11)  Guru cenderung untuk memandang guru-guru sebagai kelompok yang berbeda.
12)  Guru menunjukkan kesediaan untuk berbakti dan berjasa.[9]







BAB III
KESIMPULAN
Kepribadian guru mempunyai kelebihan sendiri bila diterapkan dalam kelas karena ia akan memberikan kecenderungan dan kesenangan yang berbeda kepada murid.  Suksesnya seorang guru tergantung dari kepribadian, luasnya ilmu tentang materi pelajaran serta banyaknya pengalaman. Tugas seorang guru itu sangat berat, tidak mampu dilaksanakan kecuali apabila kuat kepribadiannya, cinta dengan tugas, ikhlas dalam mengerjakan, memelihara waktu murid, cinta kebenaran, adil dalam pergaulan. Ada yang mengatakan bahwa masa depan anak-anak di tangan guru dan di tangan gurulah terbentuknya umat.
Selain itu bila seseorang telah memilih menjadi guru maka ia akan terjun total dalam bidang yang telah dipilihya sehingga perilaku, ucapan dan tindakan selalu disesuaikan dengan profesi yang telah dipilihnya. Sedangkan saat ini statemen ibarat guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari merupakan dampak kurang diaplikasikannya ruh guru oleh guru tersebut. Misalnya, betapa banyak guru melarang  muridnya merokok  namun ia sendiri merokok dan masih banyak lagi yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000.
Djuhan, M. Widda, Sosiologi Pendidikan, Ponorogo: Stain Press.
Nasution,. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010.
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008.
http://ekagoodlight.blogspot.com/2012/11/kepribadian-guru.html




[1] M. Widda Djuhan, Sosiologi Pendidikan, (Ponorogo: Stain Press), 62.
[2] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000) hlm. 39-40.
[3] http://ekagoodlight.blogspot.com/2012/11/kepribadian-guru.html
[4] Nasution,. Sosiologi Pendidikan. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), 103.
[5] ibid
[6] M. Widda Djuhan, Sosiologi Pendidikan, (Ponorogo: Stain Press), 63.
[7] Nasution,. Sosiologi Pendidikan. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), 104.
[8] Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), 170.
[9] Nasution,. Sosiologi Pendidikan. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), 104-105.