temukan jawabannya disini

Selasa, 09 April 2013

artikel


IBU KOTA LEBIH KEJAM DARI IBU TIRI
(DALAM KONTEKS GLOBALISASI)
Ungkapan di atas mungkin sudah sering didengar telinga. Bahkan sering kita rasakan. Sebagai Ibu Kota Negara, Jakarta dengan segala isinya berusaha untuk menjadi kota superior dan angkuh diantara kota-kota lain di Indonesia. Buktinya, meskipun APBD berlimpah, tapi tetap saja masih banyak penduduk Jakarta yang masih hidup di rumah-rumah kardus dan di kolong jembatan tanpa adanya jaminan kehidupan yang layak dari pemerintah. Kesenjangan itu terlihat begitu jelas disetiap sudut kota jakarta. Ada yang rumahnya bak istana banyak yang hanya terbuat dari kardus. Ada yang selalu terlihat makan di restoran mewah dan banyak diantara mereka yang makan dari tempah sampah. Fenomena sosial seperti ini selalu menghiasi kota Jakarta. Dampak negatif dari semua itu adalah Jakarta kini terlihat lebih sangar yang siap menerkam siapa saja yang lengah.
 Jakarta sendiri telah penuh dengan orang luar Jakarta yang melihat kemilau enaknya mengadu nasib dan menggantungkan asa di ibu kota. Tapi pertanyaannya sekarang, apakah yang didambakan oleh warga tinggal di ibu kota?rumah yang mewah?gaji yang tinggi?mungkin menurut kami, mereka menginginkan adanya kehidupan yang lebih layak, rasa aman, nyaman dan perhatian pemerintah terhadap nasib mereka. Tapi kenyataannya mereka pun tak mendapatkannya. Jakarta pun tumbuh secara brutal dengan berpihak hanya pada pemilik modal dan tidak peduli akan nasib mayoritas penduduknya yang miskin. Ibu kota telah menjadi tujuan utama bagi sebagian orang. Bahkan bagi para pencari kerja, Jakarta tak ubahnya bagaikan gula yang diserbu semut. Keadaan demikian telah membuat Jakarta sebagai kota paling superior dibanding kota lain di Indonesia.
Kota yang aman dan nyaman adalah kota yang memiliki rasa empati. Empati adalah kemampuan untuk merasakan perasaan orang lain dari sudut pandang orang lain. Dengan kata lain empati adalah kemampuan mengambil alih posisi orang lain dalam satu konteks tertentu. Inilah yang dibutuhkan warga Jakarta dalam menemukan angkuhnya Jakarta. Diantara kemacetan Jalanan Ibu kota, kita sudah mulai kehilangan rasa empati. Saling menyalib dan menyerobot tanpa mematuhi peraturan. Kota harus menjadi tempat interaksi antar warga. Maka diperlukan ruangan besar agar  interaksi terjalin, seperti yang dilakukan oleh Ali sadikin, membangun Taman mini. Jangan hanya membangun mal-mal yang membuat warga semakin konsumtif dan tidak kritis terhadap persoalan sosial.
Jakarta harus menyadari bahwa warganya terdiri dari multikultur, namun bukan berarti menjadi kota yang primordialisme, tidak bisa beristilah “loe-loe, Gue,-gue”, untuk membangun kota yang penuh kompleksitas seperti ini dibutuhkan rasa persatuan dan saling peduli satu dengan yang lainnya. Warga Jakarta lebih butuh dimanusiakan sebagai manusia seutuhnya. Apalagi sejalan dengan pesatnya arus globalisasi pada era sekarang, globalisasi pun juga menimbulkan banyak dampak bagi kehidupan di ibu kota sendiri.
Berbicara tentang globalisasi sendiri mungkin dapat menjadi wacana yang patut dibincangkan pada abad 21 ini. Globalisasi secara tidak langsung telah menjadi konsekuensi logis dari modernisme di berbagai negara yang memasuki abad ke-21. Implikasi dari globalisasi adalah hilangnya ruang, jarak dan waktu serta wilayah teritorial yang membatasi interaksi manusia di berbagai belahan dunia ini, atau yang sering disebut dengan istilah “boarder less” (dunia tanpa batas). Pengaruhnya hubungan bilateral maupun multilateral sebuah negara yang menjadi suatu keharusan bagi negara-negara yang terbuka termasuk Indonesia.  Kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi menjadi penyokong utama perubahan dunia pada abad sekarang. Proses globalisasi juga menghendaki adanya penyatuan dunia dalam satu sistem terpadu yang membentuk perkampungan global (global village). Ketika dunia berusaha disatukan dalam sebuah tatanan integral muncul pertanyaan bagaimanakah pengaruh yang ditimbulkan oleh prosess globalisasi terhadap rasa nasionalisme kita? Karena pada dasarnya ketika muncul gagasan penyatuan dunia kedalam satu sistem integral yang tidak melihat pada batas teritorial tentu berpengaruh pada rasa nasionalisme. Nasionalisme sendiri diartikan sebagai faham kebangsaan, yaitu faham yang melahirkan rasa cinta terhadap tanah air Indonesia. Bagaimana sikap seorang warganegara terhadap negaranya mencerminkan rasa nasionalisme seseorang. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi. Banyak perbedaan dalam masyarakat di Indonesia yang diakibatkan oleh topografi Indonesia yang berupa gugusan kepulauan. Akan tetapi bangsa Indonesia tetap eksis sampai dengan hari ini.
Seiring dengan tingginya intensitas hubungan antar negara di berbagai bidang, globalisasi diharapkan mampu menjadi instrumen penting bagi perdamaian dunia yang bisa menjadikan adanya simbiosis mutualisme bukan malah menimbulkan bumerang bagi warga negara. Simbiosis Mutualisme antar negara, berdampak pada lunturnya rasa superioritas dan inferioritas antar negara sehingga dengan semangat take and give ini sentimen ras, suku, bangsa, agama maupun kelas sosial dan sebagainya relatif bisa dihindari. Hal ini sebenarnya juga berlaku bagi Bangsa Indonesia, dengan kemudahan sistem informasi, komunikasi dan transportasi di daerah-daerah di Indonesia berakibat pada meningkatnya intensitas hubungan masyarakat antar daerah termasuk di ibu kota. Selain itu, kesediaan masyarakat untuk membuka diri menjadi sangat penting bagi kemajuan peradaban dari sebuah bangsa, dengan catatan yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Disadari ataupun tidak globalisasi mampu memberikan pendidikan kepada masyarakat dan menciptakan sebuah tantanan sosial masyarakat Indonesia yang multikultur menjadi masyarakat yang toleran dan dewasa. Dengan semangat nasionalisme mari bersama-sama kita jadikan perbedaan menjadi kekuatan, keragaman dalam  keharmonisan dan dalam setara kita merdeka.
Dengan demikian adanya globalisasi bisa digunakan untuk meningkatkan rasa persatuan dan nasionalisme antar warga di negara ini, khususnya bagi warga ibu kota sendiri bukan malah menciptakan pola hidup yang individual. Tergantung bagaimana kita menyikapi globalisasi sendiri. Karena Karena globalisasi hanya memberikan 2 kemungkinan yaitu memberi kemakmuran dan kebebasan sekaligus mendatangkan kemiskinan dan ketergantungan pada negara lain sebagaimana yang dialami Indonesia saat ini termasuk fenomena yang terjadi di ibu kota. Ironis sekali ketika kita melihat kesenjangan sosial yang terjadi pada masyarakatnya. Anak jalanan, gepeng, pemulung dan pemukiman kumuh menjadi pemandangan unik di Jakarta di antara gedung-gedung pencakar langit dan keramaian jalan-jalannya. Di bawah kolong jembatan, gang-gang kotor dan di sudut-sudut kota, banyak kita temui kaum-kaum pinggiran yang termarjinalkan dengan kesejahteraan jauh dari layak dan kehidupan di bawah garis kemiskinan. Jakarta memang menjanjikan surga bagi orang yang mempunyai skill atau keahlian tertentu, itu pun jika masih dibutuhkan. Sementara bagi yang tidak punya skill maka hanya akan menjadi beban bagi kota Jakarta. Konsep demokrasi dengan ciri kekuasaan dari, oleh dan untuk rakyat hanya menjadi slogan bagi kepentingan sekelompok golongan tertentu. Ekonomi kerakyatan sebagai amanat UUD 1945, dirubah dengan ekonomi neo-liberal dan kapitalis oleh penguasa. Jika masih demikian jangan pernah berharap keadilan sosial akan tercapai. Tak salah ungkapan yang mengatakan Jakarta lebih kejam daripada perlakuan ibu tiri terhadap anaknya. Semoga ke depannya ibu kota lebih bisa memperbaiki dirinya di tengah arus globalisasi ini dan benar-benar bisa menjadi ibu kota yang diimpikan warganya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar